Running Girl

Gadis itu senang berlari. Ia selalu menikmati ketika angin membelai rambutnya dan memukul wajahnya saat ia menggerakkan kedua kakinya dengan cepat.

Saat ia memiliki masalah, ia selalu berlari. Menggerakkan kakinya dengan cepat, melupakan masalahnya, dan kembali menikmati angin.

Karena ia, dilahirkan untuk berlari. Karena ia adalah gadis pelari – yang senantiasa berlari, kapanpun, di manapun, dan apapun yang terjadi.


a.e’s: Yep. Coretan tak masuk akal, yang diciptakan saat les. Gadis Pelari :v

Canlyniadau

Suasana padang begitu tenang sekaligus menentramkan jiwamu. Bau harum yang berasal dari bunga-bungaan yang ada di padang itu begitu menyegarkan paru-parumu. Kau tak merasakan rasa sakit akibat sakit yang lama kau derita, dan ini menyenangkan. Apakah ini mimpi?

Kau memetik setangkai bunga Gardenia dan menghirup aromanya dalam-dalam. Betapa harumnya, kau membatin sambil menyunggingkan senyum tipis. Tak puas dengan aroma, kali ini kau berjalan mencari dandelion. Setelah menemukannya tak jauh dari tempat kau memetik bunga Gardenia tadi, kau meniup dandelion itu. Kemudian kau tertawa – hal yang tak pernah kau lakukan selama sekian waktu akibat kepayahan menahan sakit.

Sayup-sayup kau mendengar suara. Suara lembut yang memanggilmu dengan penuh kasih sayang. Suara yang seketika membuat hatimu bergetar.

“Pulanglah.”

Secara refleks, kau berbalik dan mendapati sekumpulan cahaya terang di ujung padang. Kembali suara itu terdengar, memanggilmu kembali.

“Pulanglah.”

Ah, batinmu. Senyum mulai tersungging kembali di wajahmu yang telah memperoleh keelokannya kembali. Gaun putih selutut yang kau kenakan berkibar akibat sapaan angin. Dengan bunga Gardenia masih tergenggam di tanganmu, kakimu mulai menggerakkanmu ke arah cahaya putih itu serta mulutmu yang menggumamkan sesuatu.

“Ya, aku pulang.”


Canlyniadau
[ pulanglah, wahai jiwa yang lelah dengan segala kefanaan ini. ]
© a.e


satu –
Sakit, sakit, sakit, batinmu. Kau berusaha menggerakkan tanganmu namun tak bisa. Justru itu mengakibatkan rasa sakit yang lebih lagi. Kepalamu seolah tertusuk ribuan – bukan, puluhan ribu jarum dari segala arah.

Kau tak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi, yang kau tahu hanyalah kau terjatuh, lalu kepalamu dilindas oleh truk. Suatu keajaiban bahwa kau masih bertahan sampai sekarang, walaupun dengan rasa sakit yang amat sangat.

Kesadaranmu mulai menjauh, tapi kau memaksakan diri agar tetap sadar. Tidak. Kau belum – tidak rela untuk meninggalkan semua ini. Tidak, tidak, tidak. Kau mempunyai masa depan yang menanti. Kau ingin lulus SMP, masuk SMA, merasakan masa-masa indah di SMA, lalu kuliah dan lulus. Berdiri di podium dengan mengenakan baju kelulusan dan melempar toga. Melihat orang tuamu tersenyum bangga, melihat putri kecilnya kini telah menjelma menjadi wanita. Setelah itu, menikah dan mempunyai anak; dan akhirnya menghabiskan masa tuamu dengan pendamping hidupmu.

Tidak, aku…, kau membatin dengan sedih. Belum siap…

Kau terus berusaha menjaga kesadaranmu. Mencoba melawan nasibmu. Mencoba untuk bertahan hidup. Dan meraih angan-anganmu.

Kemudian, kau teringat kejadian saat masih di sekolah. Betapa senangnya kau ketika bermain pianika, bercanda dengan teman-teman, bersenang-senang… Kenapa harus berakhir dengan hal seperti ini?!

Kau merasa air mata mengalir dari matamu yang terpejam. Sekeping demi sekeping memori mulai bermunculan di ingatanmu, walau diikuti oleh rasa sakit yang begitu hebat. Betapa menyesalnya dirimu, tidak berpegangan pada Ibumu dan malah memilih untuk berkutat dengan ponsel saat di motor. Betapa tololnya dirimu, menghiraukan segala nasehat yang dulunya diberitahu oleh beliau – agar memeluk pinggangnya, bukannya malah melakukan pekerjaan yang lain; yang akan mengancam keselamatannya.

Inikah hukuman untuk dirinya?

Tiba-tiba, seseorang menggenggam tanganmu. Kau hendak melihat siapa dia, namun saraf matamu sepertinya tidak mau mengikuti perintah dari otak. Seolah mengerti rasa penasaranmu, orang itu mulai berbicara.

“Nak, jika kau sudah tak kuat, pulanglah.”

Ayah? batinmu.

“Ayah tahu, kau tidak rela. Tapi…” Terdengar suara isakan. Ayah… menangis? katamu dalam hati, terkejut. “Jangan memaksakan diri, nak. Jangan pikirkan mengenai Ayah dan Ibu. Egoislah untuk hal ini. Jika kau tak kuat, kembalilah…”

Kemudian tak terdengar lagi suara. Hanyalah isakan pelan, menunjukkan betapa hancurnya hati Ayahmu.
Ayah… Air mata kembali mengalir dari matamu. Kata-kata Ayahmu terngiang-ngiang di ingatanmu.

Egoislah untuk hal ini…
Jika kau tak kuat, kembalilah…
… kembalilah…

Ya, kembali…

Kemudian, kau memaksakan dirimu untuk melakukan hal terakhir. Kata-kata terakhir… huh? Kau sering mendengar istilah ini di dalam sinetron yang sering ditonton Ibumu. Namun kau tak membayangkan bahwa saat ini kau sedang berupaya mengatakan kata-kata terakhir.

Bukan. Kata terakhir, bukan kata-kata.

“A… yah.”

Kemudian kesadaranmu menjauh dan tubuhmu mulai mendingin.


Sebuah filosofi menyatakan,
Hiduplah seperti bunga Sakura.
Walaupun umurnya pendek namun ia mampu memberikan kebahagiaan bagi orang-orang dalam waktu sesingkat itu.


dua –
Kamar tempatmu dirawat sama sekali tak berubah beberapa bulan terakhir. Dinding putih, gorden putih, sebuah televisi di depan ranjang pasien, selang infus di sampingmu, lalu tumpukan tas yang berisi pakaian dan cemilan, dua pintu putih – satunya mengarah ke luar dari kamarmu dan satunya mengarah ke kamar mandi. Tumpukan karangan bunga ‘semoga cepat sembuh’, keranjang buah-buahan, beberapa toples kue kering, diletakkan di atas sebuah meja besar. Majalah-majalah yang berada di bawah meja itu dalam keadaan berserakan.

Pemandangan yang tak berubah ini seringkali membuatmu merasa jenuh. Jika kondisimu memungkinkan, dari dulu kau sudah kabur dari kamar ini. Namun, mengingat bahwa kau pun sendiri tak bisa berjalan, jadi mau tak mau kau harus bertahan.

Dan itu melelahkan. Belum lagi beberapa alat yang dihubungkan ke tubuhmu. Sakit saat dihubungkan maupun dilepaskan. Dan alat-alat itu justru membuat tubuhmu tak bebas lagi.

Hari itu, setelah keluar dari ruang ICU – akibat kondisi tubuhmu yang tiba-tiba drop drastis, kau kembali ke kamar rawat yang sudah kau huni kira-kira 3 bulan. Mengingat kamar rawat itu, seketika kau mengingat kamarmu sendiri.

Bagaimana kabar kamar itu, ya? Sudah lama sekali semenjak aku kembali ke rumah, batinmu sembari menatap jendela yang ditutup oleh gorden putih. Setidaknya, kamarmu lebih berwarna dibanding kamar rumah sakit ini.

Kemudian, telingamu menangkap bunyi ketukan disusul dibukanya pintu kamar rawatmu.

“Teman-teman!” katamu gembira saat melihat segerombolan orang mendesak masuk ke kamar rawatmu.

“Halo! Apa kabar?” sapa salah satu di antara mereka padamu.

Kau memaksakan seulas senyum. “Seperti yang kau lihatlah,” ujarmu berusaha menunjukkan nada ceria.

“Cepat sembuh, ya! Kami semua merindukanmu!” celoteh salah satu di antara mereka. Hatimu menghangat.

“Um, tentu saja!”

Tapi, sebagaimana manusia biasa, kau tak bisa melihat masa depanmu.

Waktu berlalu begitu cepat hingga malam pun tiba. Teman-temanmu sudah pulang sedari tadi. Di kamarmu, hanya ada adikmu, yang asyik mengganti channel televisi. Ibu dan Ayahmu pergi untuk mengurus obat-obatan yang harus kau konsumsi. Kau sendiri hanya termenung, menatap televisi di depanmu dan mengepalkan kedua tanganmu. Yosh! batinmu. Aku pasti sehat kembali, dan kembali bersekolah!

Tiba-tiba, tubuhmu terasa sangat lemah. Nafasmu putus-putus. Suaramu tak bisa keluar, seolah ditahan oleh sesuatu. Namun kau tetap keras kepala hingga yang keluar dari mulutmu hanyalah rintihan kepayahan. Adikmu menyadari hal itu. Cepat-cepat ia bangun, kemudian memeriksa kondisimu.

“Kak, kak? Kau kenapa?!”

Kau menatap lemah ke arah saudaramu. Dan rasa sakit yang hebat segera menyerang perutmu.
Melihat parasmu yang makin pucat, adikmu makin panik. Didorong oleh pikiran cepatnya, ia segera berlari dan membuka pintu; berteriak dengan kencang.

“Tolong, dokter! Suster!”

Sementara itu kesadaranmu makin menjauh. Tepat ketika kau merasa kondisimu makin payah, dan nyaris mendekati akhir, kau merasa ranjangmu kembali didorong.

Kali ini pasti UGD, batinmu sambil tertawa miris. Melihat kondisi seperti ini, mereka tidak akan bisa melakukannya. Aku pasti mati sebelum mencapai UGD.

Denyut jantungmu makin melemah. Sementara itu, adikmu terus berseru di antara tangisannya; bertahanlah, kak, kumohon bertahanlah!
Ayah dan Ibumu terlihat sangat panik. Khususnya Ibumu, sepertinnya beliau ingin menangis melihat kondisi buah hatinya. Ayahmu juga demikian, namun ia mampu mengendalikan emosinya.

Samar-samar kau melihat pintu UGD. Ah, sepertinya aku salah; mereka berhasil membawaku, batinmu kembali. Namun takkan lama…

Tepat ketika alat pendeteksi denyut jantung terpasang di tubuhmu, kesadaranmu memudar – begitu juga dengan denyut jantungmu.

Memudar, dan menghilang.


[ Canlyniadau : END ]


Note: Canlyniadau dalam bahasa Wales berarti; returning (kembali).

By the way, hai. Lama tak bersua di sini. Posting terakhir gue itu… 3 bulan yang lalu, mungkin — di blog sebelah. Maklum, anak alim kudu wajib belajar mulu tiap hari.

Oh ya, prosa panjang ga jelas ini cuma pelampiasan belaka. Banyak cacatnya pula. Deskripsi terlalu minim, sudut pandang orang kedua gagal total, pemilihan bahasa yang terlalu. Uhoho~ gue memang keren.

Sekedar informasi, baru kali ini gue tembus bikin 1k+ kata. Yang sebelumnya dari blog ini, palingan 800 kata pun belum nyampe.
– aerretha.

Forever and Always

Ketika matahari telah kembali ke peristirahatannya dan digantikan oleh bulan dan bintang, dan dengan lagu yang masih terputar dari ponselmu, kau terlelap – untuk pertama kalinya, dengan tentram.

Dan melupakan ‘tuk sementara semua beban milikmu.


Forever and Always
[ hanya satu harapku; peganglah dengan erat tanganku dan yakinkanlah aku bahwa ini keputusan yang paling baik yang kuambil. ]
Song © Taylor Swift
I own nothing and take none advantage from this.


Kala itu, matahari sedang berada di ufuk barat. Langit berwarna jingga-kemerahan dengan awan-awan yang menari di mana-mana. Burung-burung beterbangan kembali ke sarangnya, dan begitu pula manusia. Mereka kembali ke rumah masing-masing untuk menghabiskan hari dengan orang-orang yang mencintai dan dicintai mereka.

Di rumahmu, sore kali ini sepi. Tak seperti biasa – tak ada teriakan Ibumu, Kakak yang sering beradu pendapat denganmu, dan Ayah yang duduk di kursi kesayangannya di ruang keluarga sambil menyesap kopi hitam buatan Ibu. Menurut memo yang tertempel di depan kamarmu, bahwa Ayah dan Ibu sedang pergi untuk membesuk Paman yang sakit, dan Kakak yang pergi untuk mengerjakan tugas di rumah temannya.

Sebenarnya, tak ada masalah. Namun, kau sedang dalam perasaan yang kacau dan ketika orang-orang yang kau kira pasti dapat menghiburmu sedang tak ada, maka perasaanmu yang tadinya kacau makin terjadi-jadi.

Apalagi, yang terlintas pertama di otakmu adalah; kenapa ia sama sekali tak mengirim pesan maupun menelpon? Apa dia… selingkuh?

Oh sial, rutukmu dalam hati. Jangan menangis, oke? Jangan menangis. Kau mengulang-ulang kalimat itu dalam hati, seolah sebagai mantra untuk merapalkan sesuatu yang jahat darimu.

Setelah kau berhasil menentramkan diri, cepat-cepat kau melirik ke arah ponselmu sekali lagi. Tidak ada pemberitahuan apa-apa di sana. Tak ada pesan singkat, apalagi panggilan.

Walaupun ini sudah kesekian kalinya, meskipun kau sudah pernah membicarakan hal ini dengan dia – dan ia telah berjanji takkan mengulanginya lagi – toh, hal ini tetap terjadi. Ia tetap tidak mengirimkanmu apa-apa, baik pesan singkat ataupun panggilan.

Kau sudah pernah mengatakan hal ini dengannya (“Ayolah, kau jangan memendam segalanya sendirian. Kau bisa mengatakan apapun padaku. Sekali-kali, teleponlah aku jika ada sesuatu.” – janganlah terlalu tertutup denganku, itu menyakiti hatiku) dan dibalas dengannya, dengan nada tenang dan menghibur (“Tenanglah. Aku takkan merahasiakan apapun darimu. Aku janji; aku akan menelponmu.”), kemudian diikuti dengan tawa khasnya – yang sering membuat hatimu meleleh dan pikiranmu melayang.

Nyatanya? Tak ada pemberitahuan apapun di ponselmu. Kau membenci hal ini, hatimu sakit – kau ingin menangis, menunjukkan pada dunia bahwa kau sebenarnya adalah seorang perempuan lemah di balik sosok yang selama ini kuat; bahwa selama ini, kau hanyalah bersandiwara di balik semua pernyataan ‘tidak apa-apa kok – aku baik-baik saja, dan aku tetap percaya padanya’ yang kau lontarkan pada kawanmu ketika melihat ekspresimu saat melirik ponselmu tak memiliki pemberitahuan panggilan, ataupun pesan singkat darinya.

Pikiranmu berkata; aku tak sanggup, tolong hentikan semua kebohongan ini. Namun hatimu melawan dan berkata; tidak, aku percaya padanya – suatu hari nanti ia akan menyatakannya dan hubungan ini akan menjadi indah.

Kemudian, pikiranmu merespon kembali; suatu hari? Kita hidup di jaman eksakta – perlu kepastian, bukannya malah berharap pada hal yang tak mungkin.

Di saat seperti itulah, hatimu tak sanggup melawan lagi. Memang benar, kau membutuhkan eksakta, kepastian darinya, bukannya malah serentetan harapan palsu.

Kau memutuskan untuk menghapus semua pikiran itu, meraih ponselmu dan memilih untuk memutar lagu sebagai hiburan untuk hatimu. Setelah mengatur mode shuffle, kau merebahkan dirimu di atas ranjangmu yang bersprei warna biru pucat dengan hiasan bunga di beberapa daerah dan meletakkan ponselmu di dekatmu.


Once upon a time, I believe it was a Tuesday
When I caught your eye
And we caught onto something, I hold on to the night
You looked me in the eye and told me you loved me
Were you just kidding?
‘Cause it seems to me

Kau tertegun. Lagu itu, jangan-jangan…


This thing is breaking down, we almost never speak
I don’t feel welcome anymore
Baby, what happened? Please tell me
‘Cause one second it was perfect
Now you’re halfway out the door

Lagu Forever and Always milik Taylor Swift mengalun dan menggema di dalam kamarmu. Kau sendiri masih tertegun. Lagu itu benar-benar menusuk hatimu, membukanya, dan mengeluarkan segala macam keluhan dan kesalanmu.


And I stare at the phone and he still hasn’t called
And then you feel so low, you can’t feel nothin’ at all
And you flashback to when he said, forever and always
Oh, oh

Cukup sudah. Kau tak tahan lagi. Air mata mengalir dari kedua bola matamu. Mengeluarkan semua perasaanmu, seiring dengan lagu yang mengalun itu.
Di malam yang sepi, ketika matahari telah benar-benar kembali ke peristirahatannya dan digantikan oleh bulan bersama dengan bintang-bintang yang menerangkan kamarmu dengan cahaya mereka, tanpa pemberitahuan darinya, dan lagu itu tetap mengalun, kau terlelap dengan perasaan yang tentram – untuk pertama kalinya.


a.e’s: Ehm, hai. Saya baru bikin ini dan langsung kirim post ga jelas kayak gini, ehehe~ Feelnya pasti ga kerasa u.u /sujud/

Ampun, saya ini cuma penulis amatiran kok u3u