Canlyniadau

Suasana padang begitu tenang sekaligus menentramkan jiwamu. Bau harum yang berasal dari bunga-bungaan yang ada di padang itu begitu menyegarkan paru-parumu. Kau tak merasakan rasa sakit akibat sakit yang lama kau derita, dan ini menyenangkan. Apakah ini mimpi?

Kau memetik setangkai bunga Gardenia dan menghirup aromanya dalam-dalam. Betapa harumnya, kau membatin sambil menyunggingkan senyum tipis. Tak puas dengan aroma, kali ini kau berjalan mencari dandelion. Setelah menemukannya tak jauh dari tempat kau memetik bunga Gardenia tadi, kau meniup dandelion itu. Kemudian kau tertawa – hal yang tak pernah kau lakukan selama sekian waktu akibat kepayahan menahan sakit.

Sayup-sayup kau mendengar suara. Suara lembut yang memanggilmu dengan penuh kasih sayang. Suara yang seketika membuat hatimu bergetar.

“Pulanglah.”

Secara refleks, kau berbalik dan mendapati sekumpulan cahaya terang di ujung padang. Kembali suara itu terdengar, memanggilmu kembali.

“Pulanglah.”

Ah, batinmu. Senyum mulai tersungging kembali di wajahmu yang telah memperoleh keelokannya kembali. Gaun putih selutut yang kau kenakan berkibar akibat sapaan angin. Dengan bunga Gardenia masih tergenggam di tanganmu, kakimu mulai menggerakkanmu ke arah cahaya putih itu serta mulutmu yang menggumamkan sesuatu.

“Ya, aku pulang.”


Canlyniadau
[ pulanglah, wahai jiwa yang lelah dengan segala kefanaan ini. ]
© a.e


satu –
Sakit, sakit, sakit, batinmu. Kau berusaha menggerakkan tanganmu namun tak bisa. Justru itu mengakibatkan rasa sakit yang lebih lagi. Kepalamu seolah tertusuk ribuan – bukan, puluhan ribu jarum dari segala arah.

Kau tak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi, yang kau tahu hanyalah kau terjatuh, lalu kepalamu dilindas oleh truk. Suatu keajaiban bahwa kau masih bertahan sampai sekarang, walaupun dengan rasa sakit yang amat sangat.

Kesadaranmu mulai menjauh, tapi kau memaksakan diri agar tetap sadar. Tidak. Kau belum – tidak rela untuk meninggalkan semua ini. Tidak, tidak, tidak. Kau mempunyai masa depan yang menanti. Kau ingin lulus SMP, masuk SMA, merasakan masa-masa indah di SMA, lalu kuliah dan lulus. Berdiri di podium dengan mengenakan baju kelulusan dan melempar toga. Melihat orang tuamu tersenyum bangga, melihat putri kecilnya kini telah menjelma menjadi wanita. Setelah itu, menikah dan mempunyai anak; dan akhirnya menghabiskan masa tuamu dengan pendamping hidupmu.

Tidak, aku…, kau membatin dengan sedih. Belum siap…

Kau terus berusaha menjaga kesadaranmu. Mencoba melawan nasibmu. Mencoba untuk bertahan hidup. Dan meraih angan-anganmu.

Kemudian, kau teringat kejadian saat masih di sekolah. Betapa senangnya kau ketika bermain pianika, bercanda dengan teman-teman, bersenang-senang… Kenapa harus berakhir dengan hal seperti ini?!

Kau merasa air mata mengalir dari matamu yang terpejam. Sekeping demi sekeping memori mulai bermunculan di ingatanmu, walau diikuti oleh rasa sakit yang begitu hebat. Betapa menyesalnya dirimu, tidak berpegangan pada Ibumu dan malah memilih untuk berkutat dengan ponsel saat di motor. Betapa tololnya dirimu, menghiraukan segala nasehat yang dulunya diberitahu oleh beliau – agar memeluk pinggangnya, bukannya malah melakukan pekerjaan yang lain; yang akan mengancam keselamatannya.

Inikah hukuman untuk dirinya?

Tiba-tiba, seseorang menggenggam tanganmu. Kau hendak melihat siapa dia, namun saraf matamu sepertinya tidak mau mengikuti perintah dari otak. Seolah mengerti rasa penasaranmu, orang itu mulai berbicara.

“Nak, jika kau sudah tak kuat, pulanglah.”

Ayah? batinmu.

“Ayah tahu, kau tidak rela. Tapi…” Terdengar suara isakan. Ayah… menangis? katamu dalam hati, terkejut. “Jangan memaksakan diri, nak. Jangan pikirkan mengenai Ayah dan Ibu. Egoislah untuk hal ini. Jika kau tak kuat, kembalilah…”

Kemudian tak terdengar lagi suara. Hanyalah isakan pelan, menunjukkan betapa hancurnya hati Ayahmu.
Ayah… Air mata kembali mengalir dari matamu. Kata-kata Ayahmu terngiang-ngiang di ingatanmu.

Egoislah untuk hal ini…
Jika kau tak kuat, kembalilah…
… kembalilah…

Ya, kembali…

Kemudian, kau memaksakan dirimu untuk melakukan hal terakhir. Kata-kata terakhir… huh? Kau sering mendengar istilah ini di dalam sinetron yang sering ditonton Ibumu. Namun kau tak membayangkan bahwa saat ini kau sedang berupaya mengatakan kata-kata terakhir.

Bukan. Kata terakhir, bukan kata-kata.

“A… yah.”

Kemudian kesadaranmu menjauh dan tubuhmu mulai mendingin.


Sebuah filosofi menyatakan,
Hiduplah seperti bunga Sakura.
Walaupun umurnya pendek namun ia mampu memberikan kebahagiaan bagi orang-orang dalam waktu sesingkat itu.


dua –
Kamar tempatmu dirawat sama sekali tak berubah beberapa bulan terakhir. Dinding putih, gorden putih, sebuah televisi di depan ranjang pasien, selang infus di sampingmu, lalu tumpukan tas yang berisi pakaian dan cemilan, dua pintu putih – satunya mengarah ke luar dari kamarmu dan satunya mengarah ke kamar mandi. Tumpukan karangan bunga ‘semoga cepat sembuh’, keranjang buah-buahan, beberapa toples kue kering, diletakkan di atas sebuah meja besar. Majalah-majalah yang berada di bawah meja itu dalam keadaan berserakan.

Pemandangan yang tak berubah ini seringkali membuatmu merasa jenuh. Jika kondisimu memungkinkan, dari dulu kau sudah kabur dari kamar ini. Namun, mengingat bahwa kau pun sendiri tak bisa berjalan, jadi mau tak mau kau harus bertahan.

Dan itu melelahkan. Belum lagi beberapa alat yang dihubungkan ke tubuhmu. Sakit saat dihubungkan maupun dilepaskan. Dan alat-alat itu justru membuat tubuhmu tak bebas lagi.

Hari itu, setelah keluar dari ruang ICU – akibat kondisi tubuhmu yang tiba-tiba drop drastis, kau kembali ke kamar rawat yang sudah kau huni kira-kira 3 bulan. Mengingat kamar rawat itu, seketika kau mengingat kamarmu sendiri.

Bagaimana kabar kamar itu, ya? Sudah lama sekali semenjak aku kembali ke rumah, batinmu sembari menatap jendela yang ditutup oleh gorden putih. Setidaknya, kamarmu lebih berwarna dibanding kamar rumah sakit ini.

Kemudian, telingamu menangkap bunyi ketukan disusul dibukanya pintu kamar rawatmu.

“Teman-teman!” katamu gembira saat melihat segerombolan orang mendesak masuk ke kamar rawatmu.

“Halo! Apa kabar?” sapa salah satu di antara mereka padamu.

Kau memaksakan seulas senyum. “Seperti yang kau lihatlah,” ujarmu berusaha menunjukkan nada ceria.

“Cepat sembuh, ya! Kami semua merindukanmu!” celoteh salah satu di antara mereka. Hatimu menghangat.

“Um, tentu saja!”

Tapi, sebagaimana manusia biasa, kau tak bisa melihat masa depanmu.

Waktu berlalu begitu cepat hingga malam pun tiba. Teman-temanmu sudah pulang sedari tadi. Di kamarmu, hanya ada adikmu, yang asyik mengganti channel televisi. Ibu dan Ayahmu pergi untuk mengurus obat-obatan yang harus kau konsumsi. Kau sendiri hanya termenung, menatap televisi di depanmu dan mengepalkan kedua tanganmu. Yosh! batinmu. Aku pasti sehat kembali, dan kembali bersekolah!

Tiba-tiba, tubuhmu terasa sangat lemah. Nafasmu putus-putus. Suaramu tak bisa keluar, seolah ditahan oleh sesuatu. Namun kau tetap keras kepala hingga yang keluar dari mulutmu hanyalah rintihan kepayahan. Adikmu menyadari hal itu. Cepat-cepat ia bangun, kemudian memeriksa kondisimu.

“Kak, kak? Kau kenapa?!”

Kau menatap lemah ke arah saudaramu. Dan rasa sakit yang hebat segera menyerang perutmu.
Melihat parasmu yang makin pucat, adikmu makin panik. Didorong oleh pikiran cepatnya, ia segera berlari dan membuka pintu; berteriak dengan kencang.

“Tolong, dokter! Suster!”

Sementara itu kesadaranmu makin menjauh. Tepat ketika kau merasa kondisimu makin payah, dan nyaris mendekati akhir, kau merasa ranjangmu kembali didorong.

Kali ini pasti UGD, batinmu sambil tertawa miris. Melihat kondisi seperti ini, mereka tidak akan bisa melakukannya. Aku pasti mati sebelum mencapai UGD.

Denyut jantungmu makin melemah. Sementara itu, adikmu terus berseru di antara tangisannya; bertahanlah, kak, kumohon bertahanlah!
Ayah dan Ibumu terlihat sangat panik. Khususnya Ibumu, sepertinnya beliau ingin menangis melihat kondisi buah hatinya. Ayahmu juga demikian, namun ia mampu mengendalikan emosinya.

Samar-samar kau melihat pintu UGD. Ah, sepertinya aku salah; mereka berhasil membawaku, batinmu kembali. Namun takkan lama…

Tepat ketika alat pendeteksi denyut jantung terpasang di tubuhmu, kesadaranmu memudar – begitu juga dengan denyut jantungmu.

Memudar, dan menghilang.


[ Canlyniadau : END ]


Note: Canlyniadau dalam bahasa Wales berarti; returning (kembali).

By the way, hai. Lama tak bersua di sini. Posting terakhir gue itu… 3 bulan yang lalu, mungkin — di blog sebelah. Maklum, anak alim kudu wajib belajar mulu tiap hari.

Oh ya, prosa panjang ga jelas ini cuma pelampiasan belaka. Banyak cacatnya pula. Deskripsi terlalu minim, sudut pandang orang kedua gagal total, pemilihan bahasa yang terlalu. Uhoho~ gue memang keren.

Sekedar informasi, baru kali ini gue tembus bikin 1k+ kata. Yang sebelumnya dari blog ini, palingan 800 kata pun belum nyampe.
– aerretha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s