Forever and Always

Ketika matahari telah kembali ke peristirahatannya dan digantikan oleh bulan dan bintang, dan dengan lagu yang masih terputar dari ponselmu, kau terlelap – untuk pertama kalinya, dengan tentram.

Dan melupakan ‘tuk sementara semua beban milikmu.


Forever and Always
[ hanya satu harapku; peganglah dengan erat tanganku dan yakinkanlah aku bahwa ini keputusan yang paling baik yang kuambil. ]
Song © Taylor Swift
I own nothing and take none advantage from this.


Kala itu, matahari sedang berada di ufuk barat. Langit berwarna jingga-kemerahan dengan awan-awan yang menari di mana-mana. Burung-burung beterbangan kembali ke sarangnya, dan begitu pula manusia. Mereka kembali ke rumah masing-masing untuk menghabiskan hari dengan orang-orang yang mencintai dan dicintai mereka.

Di rumahmu, sore kali ini sepi. Tak seperti biasa – tak ada teriakan Ibumu, Kakak yang sering beradu pendapat denganmu, dan Ayah yang duduk di kursi kesayangannya di ruang keluarga sambil menyesap kopi hitam buatan Ibu. Menurut memo yang tertempel di depan kamarmu, bahwa Ayah dan Ibu sedang pergi untuk membesuk Paman yang sakit, dan Kakak yang pergi untuk mengerjakan tugas di rumah temannya.

Sebenarnya, tak ada masalah. Namun, kau sedang dalam perasaan yang kacau dan ketika orang-orang yang kau kira pasti dapat menghiburmu sedang tak ada, maka perasaanmu yang tadinya kacau makin terjadi-jadi.

Apalagi, yang terlintas pertama di otakmu adalah; kenapa ia sama sekali tak mengirim pesan maupun menelpon? Apa dia… selingkuh?

Oh sial, rutukmu dalam hati. Jangan menangis, oke? Jangan menangis. Kau mengulang-ulang kalimat itu dalam hati, seolah sebagai mantra untuk merapalkan sesuatu yang jahat darimu.

Setelah kau berhasil menentramkan diri, cepat-cepat kau melirik ke arah ponselmu sekali lagi. Tidak ada pemberitahuan apa-apa di sana. Tak ada pesan singkat, apalagi panggilan.

Walaupun ini sudah kesekian kalinya, meskipun kau sudah pernah membicarakan hal ini dengan dia – dan ia telah berjanji takkan mengulanginya lagi – toh, hal ini tetap terjadi. Ia tetap tidak mengirimkanmu apa-apa, baik pesan singkat ataupun panggilan.

Kau sudah pernah mengatakan hal ini dengannya (“Ayolah, kau jangan memendam segalanya sendirian. Kau bisa mengatakan apapun padaku. Sekali-kali, teleponlah aku jika ada sesuatu.” – janganlah terlalu tertutup denganku, itu menyakiti hatiku) dan dibalas dengannya, dengan nada tenang dan menghibur (“Tenanglah. Aku takkan merahasiakan apapun darimu. Aku janji; aku akan menelponmu.”), kemudian diikuti dengan tawa khasnya – yang sering membuat hatimu meleleh dan pikiranmu melayang.

Nyatanya? Tak ada pemberitahuan apapun di ponselmu. Kau membenci hal ini, hatimu sakit – kau ingin menangis, menunjukkan pada dunia bahwa kau sebenarnya adalah seorang perempuan lemah di balik sosok yang selama ini kuat; bahwa selama ini, kau hanyalah bersandiwara di balik semua pernyataan ‘tidak apa-apa kok – aku baik-baik saja, dan aku tetap percaya padanya’ yang kau lontarkan pada kawanmu ketika melihat ekspresimu saat melirik ponselmu tak memiliki pemberitahuan panggilan, ataupun pesan singkat darinya.

Pikiranmu berkata; aku tak sanggup, tolong hentikan semua kebohongan ini. Namun hatimu melawan dan berkata; tidak, aku percaya padanya – suatu hari nanti ia akan menyatakannya dan hubungan ini akan menjadi indah.

Kemudian, pikiranmu merespon kembali; suatu hari? Kita hidup di jaman eksakta – perlu kepastian, bukannya malah berharap pada hal yang tak mungkin.

Di saat seperti itulah, hatimu tak sanggup melawan lagi. Memang benar, kau membutuhkan eksakta, kepastian darinya, bukannya malah serentetan harapan palsu.

Kau memutuskan untuk menghapus semua pikiran itu, meraih ponselmu dan memilih untuk memutar lagu sebagai hiburan untuk hatimu. Setelah mengatur mode shuffle, kau merebahkan dirimu di atas ranjangmu yang bersprei warna biru pucat dengan hiasan bunga di beberapa daerah dan meletakkan ponselmu di dekatmu.


Once upon a time, I believe it was a Tuesday
When I caught your eye
And we caught onto something, I hold on to the night
You looked me in the eye and told me you loved me
Were you just kidding?
‘Cause it seems to me

Kau tertegun. Lagu itu, jangan-jangan…


This thing is breaking down, we almost never speak
I don’t feel welcome anymore
Baby, what happened? Please tell me
‘Cause one second it was perfect
Now you’re halfway out the door

Lagu Forever and Always milik Taylor Swift mengalun dan menggema di dalam kamarmu. Kau sendiri masih tertegun. Lagu itu benar-benar menusuk hatimu, membukanya, dan mengeluarkan segala macam keluhan dan kesalanmu.


And I stare at the phone and he still hasn’t called
And then you feel so low, you can’t feel nothin’ at all
And you flashback to when he said, forever and always
Oh, oh

Cukup sudah. Kau tak tahan lagi. Air mata mengalir dari kedua bola matamu. Mengeluarkan semua perasaanmu, seiring dengan lagu yang mengalun itu.
Di malam yang sepi, ketika matahari telah benar-benar kembali ke peristirahatannya dan digantikan oleh bulan bersama dengan bintang-bintang yang menerangkan kamarmu dengan cahaya mereka, tanpa pemberitahuan darinya, dan lagu itu tetap mengalun, kau terlelap dengan perasaan yang tentram – untuk pertama kalinya.


a.e’s: Ehm, hai. Saya baru bikin ini dan langsung kirim post ga jelas kayak gini, ehehe~ Feelnya pasti ga kerasa u.u /sujud/

Ampun, saya ini cuma penulis amatiran kok u3u

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s