Journey: Astrild Erretha at Bali (Day 1)

Semuanya berawal dari Bandara Ngurah Rai, tentu saja. Bandara yang sedang direkonstruksi itu adalah bandara internasional dari Pulau Dewata.

Pesawat tiba 14 menit lebih awal dibanding perkiraan semula yaitu pukul 4 sore. Setelah melewati beberapa menit mematikan — karena entah kenapa, saya malah kena semacam sakit perut ‘kambuhan’ — untuk menunggui bagasi, akhirnya berangkatlah kami, dalam konteks ini keluarga dan teman.

Pertama, tentu saja check-in ke hotel, Bintang Kuta. Sesudah itu, kemudian lanjut ke GWK — Garuda Wisnu Kencana, pusat kebudayaan di Bali. Menonton sekilas tari Kecak, lalu melanjutkan perjalanan ke patung Wisnu dan patung Garuda.

[sebenarnya ada lagi sejarah-sejarah tentang GWK — tentang bagaimana tempat itu dulunya adalah tebing, tapi dikikis dan dipahat sedemikian rupa hingga menjadi seperti itu… selengkapnya, cari di google karena saya malas menjelaskan.]


Menikmati masakan ayam betutu sebagai makan malam adalah salah satu aktivitas yang dilakukan. Saya, dengan amat nekatnya, memesan ayam betutu dengan kuah — yang pedasnya melebihi ayam betutu goreng. Untung saja, saya bisa menghabiskannya. Ya, untung saja.

Sehabis itu, kami diajak mengelilingi kawasan Kuta hingga Legian, melihat-lihat panorama kawasan yang dipenuhi oleh para turis mancanegara.

Dan juga melewati monumen untuk mengenang peristiwa Bom Bali. Di sana juga tertulis nama 200 korban akibat peristiwa itu. Katanya, hingga sekarang pada bulan Oktober, keluarga para korban sering ke monumen itu untuk mengenang tragedi mengerikan tersebut.

Akhirnya, setelah mencapai aktivitas terakhir untuk hari ini, kami kembali ke hotel dan mempersiapkan diri untuk aktivitas berikutnya keesokan hari.

no title.

teddy-bear

Tuhan tahu bahwa manusia takkan menyenangi hidup yang konstan, maka dari itu Ia menyertakan misteri-misteri kehidupan yang tertata dengan apik di tiap-tiap perjalanan hidup manusia.


25 Desember 2013
[ selamat natal! damai natal selalu menyertai kita, dari sekarang sampai selama-lamanya. amin. ]

recommended songs:
1. we need a little christmas – glee
2. all i need for christmas is you – mariah carey


Yep. Saya ga ada ide untuk kali ini, jadi terpaksa ambil dari draft ponsel, ahahaha.

Ngomong-ngomong, selamat natal!
– aerretha.

Dream: Color of Life

SETIAP manusia memiliki mimpi. Pernyataan itu memang akurat. Karena mimpi ada, maka manusia terus hidup, berjuang, dan berkembang.

Salah satu tujuan hidup manusia adalah untuk mengejar mimpi yang selama ini ingin mereka wujudkan. Saat di mana mereka mengejar angan-angan itu, akan turut memberi warna pada pelangi hidup yang akan terkenang ketika tangan mereka telah mampu mencapai mimpi. It’ll be sweet memories, you know?

Namun, di saat itu akan ada masa di mana manusia akan diperhadapkan pada dua pilihan. Tetap berjuang atau menyerah.

Tiap pilihan memiliki konsekuensi. Jika mereka memilih pilihan pertama, maka akan ada perjuangan. Ada masa di mana mereka akan jatuh dan bangun. Jatuh dan bangun kembali. Begitu terus hingga mencapai akhir.

Jika mereka memilih pilihan kedua, maka mereka akan kembali ke zona nyaman, tiada kesusahan dan hidup yang tenang. Akan tetapi, hidup mereka akan cenderung monokrom — tanpa warna.

Pikirkanlah semuanya dengan bijak dan pikiran yang dingin. Setiap pilihan yang kaupilih takkan bisa kauubah kembali.

So, what do you choose?

Mom’s Day Celebration

22 Desember 2013, nyaris tengah malam.
Kiriman dari Astrild Erretha —
— kepada Emak tercinta, dan semua Ibu baik di Indonesia maupun dunia.


I.
Aku tak pernah menyadari
Betapa besarnya pengorbanan yang kaulakukan
ya, aku akui takkan pernah menyadari
— ataupun tahu

Senyum tulus laksana sinar mentari musim semi
Sorot mata lembut bak bunga bermekaran
Sentuhan yang tak tergantikan oleh apapun
Pengorbanan tak terbalas,
oleh apapun

Aku memang tak pernah tahu
atau bahkan menyadari ini
Tapi, aku tak bodoh, bu
Hati ini tahu bagaimana ibu mengeraskan hatinya
Agar buah hatinya tak melihat saat di mana
ibu menangis

Aku tak sebodoh yang ibu kira
Kutahu bagaimana tetes air mata itu mengalir
Tiap diberi penghargaan sebagai murid berprestasi
Tiap dididik tuk menjadi pemudi berguna
Tiap kali mengeraskan kepala dan membangkang
Aku tahu

Dimomen hari ibu ini, 22 Desember 2013
Ingin kuserukan semua perasaan di relung hati
Pembalasan atas semua jerih payah selama ini
Atas semua yang ibu lakukan

Ibu,
Malaikat tak bersayap utusan Tuhan
Satu-satunya wanita terbaik dalam hidupku
Perwujudan dari kasih dan cinta

Bersamaan dengan ini
Kuselipkan setangkai anyelir
Melambangkan cinta, kasih sayang, penghormatanku
padamu.

BOOM: 11/12/13

Kalender menunjukkan tanggal 11 Desember 2013. Orang-orang mengatakan tanggal ini adalah tanggal cantik. Namun bagiku tidak.

Hari ini dimulai dengan diterimanya kabar bahwa aku bukan lagi pemegang rekor nilai tertinggi. Cukup apes untuk berita pertama.

Kedua, bahwa hari ini adalah ujian Matematika — meskipun aku adalah peserta bimbingan olimpiade jurusan Matematika, aku tetap seperti orang kebanyakan; membenci mata pelajaran eksakta itu.

Ketiga, mengetahui kabar bahwa satu nomor jawabanku sudah pasti salah, menjadi pukulan tersendiri. Yeah. Harapan untuk mendapat nilai sempurna pun, gagal total.

Orang-orang mengatakan tanggal ini adalah tanggal cantik, namun bagiku tanggal ini adalah tanggal biasa-biasa saja.

Mereka berharap keberuntungan yang banyak, namun bagiku tak ada yang namanya keberuntungan. Hal itu terjadi karena ada usaha dan penyertaan dari Tuhan.

BOOM: 11/12/13

— and it happened

Sial.

Sial. Sial. Sial.

Ia menggeram. Dikepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ditahannya air mata yang ingin merembes keluar dari kedua matanya. Ia berdecih pelan, berusaha mengungkapkan seluruh unek-uneknya melalui decihan itu.

Orang-orang menganggap ia tidak peduli dengan apa yang barusan terjadi padanya. Ia dikira baik-baik saja. Ekspresi wajahnya menyatakan itu.

Namun, ia bermasalah. Mereka tak tahu, matanya beberapa kali memanas — namun ia berhasil mengendalikan diri untuk menahan luapan emosinya. Mereka tak mendengar jeritan frustrasi di dalam dirinya, rutukan dan berbagai caci-maki darinya untuk dirinya sendiri; menyatakan betapa tololnya dia.

Ia hanya mampu menundukkan wajahnya, menatap ke arah cokelat tanah dan menolak tawaran dari teman-temannya.

“Hei, sekarang seharusnya giliranmu. Mau mencobanya?”

Dan dengan senyum yang sopan, ia menolak dengan halus.

“Tak usah, kau sajalah.” — aku sudah didiskualifikasi dari peserta ujian semester, jadi untuk apa? tambahnya dalam hati, sambil tertawa miris.

Temannya mengangguk, tanda mengerti tanpa mengatakan apapun lagi dan berlari untuk mengambil cakram yang dilemparkan oleh peserta sebelumnya.

Ia menatap nanar ke arah cakram itu, kemudian kembali merutuki ketololannya. Siapa sangka, ia melakukan kesalahan — yang dianggap sangat fatal bagi pelatihnya; sikap berdirinya yang salah. Oleh karena itu, pelatihnya bersikap tegas (hei, lempar cakram itu olahraga maut!) dengan memberikan tanda silang di sebelah namanya. Yang berarti, ia dicoret dari daftar peserta ujian.

Ia sama sekali tidak menyalahkan pelatihnya itu. Lempar cakram adalah olahraga maut, sedikit kesalahan saja bisa membahayakan nyawa orang lain.

Penyebab diskualifikasi dirinya adalah dirinya.

Ya, dirinya.

Dan seiring dengan setetes air mata yang mengalir tanpa ia sadari, hujan pun turun.

Ia tidak mempedulikannya, baik hujan ataupun keluhan teman-temannya.

Yang penting — biarlah ia menumpahkan emosinya saat ini. Ditemani oleh langit cerah yang menumpahkan air matanya juga.