Love: A First Story (Althea’s POV)

Aku tahu Astrild Erretha, sobatku, menyukainya!

Deklarasi yang berani memang. Tapi sungguh, itu benar. Jika kalian sepeka aku, maka kalian pasti menyetujui fakta bahwa si kecil Asti telah berhasil move on. Kalian mau bukti? Baiklah.

Setiap kali Astrild berpapasan dengannya, senyum yang tadinya terukir di wajahnya menghilang seketika. Setelah menjauh kira-kira 2 meter, ia pun kembali bersenda gurau.

Aku tahu bahwa saat itu ia sedang berusaha menahan semburan senyum yang akan muncul saat berpapasan dengannya. Aku tahu karena aku peka akan hal itu.

Juga setiap kali waktu bimbingan belajar tiba, aku tahu bahwa Astrild berharap dia akan datang. Ia akan berharap sosoknya muncul di balik pintu, cengiran di wajahnya, dan duduk di bangku dengan gaya tak peduli.

Aku tahu semua itu.
Hanya saja si Asti terlalu malu, atau memiliki harga diri yang tinggi… Atau karena dia memiliki pacar—alasan ini sering Astrild ucapkan padaku ketika aku meledeknya. Ya, memang benar ia telah memiliki pacar. Namun di mataku, ia hanya cocok dengan Astrild.

Hanya dengan sobatku yang ceria itu.

Advertisements

Ya, katakan saja.

Ya, ya, ya. Katakan saja bahwa Astrild Erretha adalah gadis terlugu di dunia, dengan gengsi setinggi langit dan kenekatan seterjal jurang. Katakan saja bahwa Astrild Erretha adalah gadis penyendiri, dengan tingkat kepasifan akut dan tak pernah merasa hidup di dunia sosial.

Ya, ya, ya. Katakan saja bahwa Astrild Erretha menyukai seseorang, yang telah memiliki pacar. Katakan saja bahwa Astrild Erretha, gadis dengan gengsi setinggi langit, tak pernah mengakui perasaan sukanya.

Ya, ya, ya. Katakan saja bahwa Astrild Erretha adalah gadis termalang di dunia.

Ya, katakan saja semua itu. Karena Astrild Erretha takkan tersinggung akan hal itu, karena dia sendiri sudah menyadari semuanya.

19.1.2014

Hari ini, 19 Januari, seorang bayi perempuan diberikan pada orang tua sebagai seorang anak, diberikan untuk menjadi sahabat terbaik dua orang—bukan, tiga orang, dan diberikan kepada seorang laki-laki untuk menjadi pasangan hidupnya di kemudian hari…

Sobatku terkasih, kuucapkan padamu dengan tulus dari lubuk hati, selamat hari kelahiran! Jadilah orang yang berguna bagi bangsa dan negara yang tercinta ini!

Salam kasihku padamu,
Astrild Erretha

Love: A First Story (ae’s POV)

Pemuda itu tak menarik. Sungguh, ia tak menarik sama sekali.

Astrild Erretha mengulang-ulang kalimat itu dalam hati ketika Althea Chaddesley sudah menyikutnya beberapa kali. Althea memang gemar menjadi mak comblang untuk Astrild. Ia berulang kali meneriakkan ‘ceilaaaah, si Asti ternyata udah gede!!!!’, yang biasa dibalas Asti dengan sikutan maut miliknya.

Kembali pada pemuda tadi. Asti berulang kali membatin, ‘Tidak, tidak. Dia tidak menarik, pertama. Dua, dia sudah punya pacar, ingat itu Asti! Tapi… lumayan juga tampangnya ketika bermain gitar… tunggu, apa yang kupikirkan?! Asti, sadarlaaaah!!!’ Wajah Asti memerah ketika memikirkan hal itu. Dicubitnya pipi sebelah kanannya, guna menyadarkan kembali imajinasinya.

“Sudahlah, Ast. Kausuka padanya, kan?!” desis Althea sambil menyeringai ceria.

Astrild menjulurkan lidahnya pada Althea, melewati sang pemuda dan berbalik menatap Althea yang sedang senyam-senyum gaje.

“Aku tak menyukainya, Lecta. Mana mungkiiinnn!” balas Astrild sambil tertawa. “Lagian, bukan hanya dia cowok di siniii!”

“Hallaahhh!!! Astrild Erretha, dasar pembohong!!!” tukas Althea sambil tertawa.

17.1/7-12, rencana gila ae.

Astrild Erretha mengawali harinya dengan kesal. Kehangatan matahari tak dapat merangsek masuk ke kota, membuat suasana hatinya makin parah. Bagaimana tidak? Semalam, ia dihubungi oleh ketua kelompok drama untuk menghadiri latihan yang akan diadakan setelah sekolah usai.

Seharusnya itu tak masalah, ya. Namun, ia sudah katakan sehari sebelumnya; bahwa ia berhalangan pada hari Jumat.

Si ketua nampaknya tak peduli.

Anggota kelompok drama pun bergunjing, bahwa sang ketua hanya mementingkan dirinya sendiri. Buktinya, seharusnya pada hari Kamis mereka bisa berlatih, namun ketua sibuk.

Mereka sudah mendiskusikannya. Dan kesepakatan yang diambil adalah; hari Sabtu.

Namun si ketua nampaknya memajukan satu hari.

Astrild Erretha berhalangan pada hari Jumat, ia memiliki bimbingan belajar pada jam setengah 4. Sekolah usai jam 12, namun karena letak rumahnya yang jauh maka ia harus pulang, beristirahat sejenak, dan bersiap-siap. Diusulkannya hari Sabtu pada anggota lain.

Salah seorang mengatakan bahwa ia tak bisa. Ia harus pergi ke gereja pada jam 6 sore. Letak rumahnya dengan sekolah hanyalah 10 menit menggunakan kendaraan roda dua, dan letak rumahnya sangat dekat dengan gereja.

Astrild hendak protes, namun tak jadi. Baiklah ia mengambil keputusan sepihak yang bisa dipikirkannya saat itu tanpa perlu menambah tumpukan dosanya; kabur…!


satu, daftar rencana ae:
kode: 17.1/7-12
tempat penggunaan: bebas di manapun
konsekuensi yang akan dihadapi: disemprot saat bertemu nanti
kelebihan: tak perlu menambah dosa
kekurangan: terlalu klise
isi rencana: KABUR!

ae’s: lies lie beside her

Tak ada yang mengenal baik Astrild Erretha. Bahkan keluarga, teman-teman, dan Althea tak mengenal Astrild dengan baik. Hanya Astrild yang mengenal dirinya sendiri.

Astrild adalah perasa. Ia peka terhadap perasaan orang di sekelilingnya, juga perasaan dari benda-benda mati. Kedengaran gila, memang. Namun seringkali ketika ia mulai melayangkan imajinasinya mengenai perasaan benda itu jika ia melakukan hal ini, maka ia akan menjadi tak tega.

Astrild tak lebih dari seorang pemimpi. Ia memimpikan segala hal. Ia bermimpi menjadi seorang putri cantik dari suatu kerajaan, ia bermimpi menjadi seorang yang sempurna dalam segala hal, ia bermimpi mendapatkan keajaiban yang akan mengubah hidupnya.

Ia bermimpi untuk menjadi seorang arsitek, desainer, penjelajah, pianis, dan segudang cita-cita lainnya. Ia, dengan mimpi sebanyak bintang di langit.

Namun di sisi lain, Astrild tak lebih dari seorang pecundang. Ya, ia tak bisa mewujudkan mimpinya barang satu pun. Ia tak bisa membuat bangga Ibu dan Bapaknya, dan orang-orang yang disayanginya. Ia tak bisa mengatakan apa yang dipikirkannya secara gamblang, dan akhirnya malah memperparah keadaannya.

Astrild Erretha tak lebih dari itu. Kalaupun ada yang bisa dibanggakannya, itupun hanyalah suatu keterampilan tak berarti.