ae’s: lies lie beside her

Tak ada yang mengenal baik Astrild Erretha. Bahkan keluarga, teman-teman, dan Althea tak mengenal Astrild dengan baik. Hanya Astrild yang mengenal dirinya sendiri.

Astrild adalah perasa. Ia peka terhadap perasaan orang di sekelilingnya, juga perasaan dari benda-benda mati. Kedengaran gila, memang. Namun seringkali ketika ia mulai melayangkan imajinasinya mengenai perasaan benda itu jika ia melakukan hal ini, maka ia akan menjadi tak tega.

Astrild tak lebih dari seorang pemimpi. Ia memimpikan segala hal. Ia bermimpi menjadi seorang putri cantik dari suatu kerajaan, ia bermimpi menjadi seorang yang sempurna dalam segala hal, ia bermimpi mendapatkan keajaiban yang akan mengubah hidupnya.

Ia bermimpi untuk menjadi seorang arsitek, desainer, penjelajah, pianis, dan segudang cita-cita lainnya. Ia, dengan mimpi sebanyak bintang di langit.

Namun di sisi lain, Astrild tak lebih dari seorang pecundang. Ya, ia tak bisa mewujudkan mimpinya barang satu pun. Ia tak bisa membuat bangga Ibu dan Bapaknya, dan orang-orang yang disayanginya. Ia tak bisa mengatakan apa yang dipikirkannya secara gamblang, dan akhirnya malah memperparah keadaannya.

Astrild Erretha tak lebih dari itu. Kalaupun ada yang bisa dibanggakannya, itupun hanyalah suatu keterampilan tak berarti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s