Love: A First Story (Althea’s POV)

Aku tahu Astrild Erretha, sobatku, menyukainya!

Deklarasi yang berani memang. Tapi sungguh, itu benar. Jika kalian sepeka aku, maka kalian pasti menyetujui fakta bahwa si kecil Asti telah berhasil move on. Kalian mau bukti? Baiklah.

Setiap kali Astrild berpapasan dengannya, senyum yang tadinya terukir di wajahnya menghilang seketika. Setelah menjauh kira-kira 2 meter, ia pun kembali bersenda gurau.

Aku tahu bahwa saat itu ia sedang berusaha menahan semburan senyum yang akan muncul saat berpapasan dengannya. Aku tahu karena aku peka akan hal itu.

Juga setiap kali waktu bimbingan belajar tiba, aku tahu bahwa Astrild berharap dia akan datang. Ia akan berharap sosoknya muncul di balik pintu, cengiran di wajahnya, dan duduk di bangku dengan gaya tak peduli.

Aku tahu semua itu.
Hanya saja si Asti terlalu malu, atau memiliki harga diri yang tinggi… Atau karena dia memiliki pacar—alasan ini sering Astrild ucapkan padaku ketika aku meledeknya. Ya, memang benar ia telah memiliki pacar. Namun di mataku, ia hanya cocok dengan Astrild.

Hanya dengan sobatku yang ceria itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s