ekspresi

Hari itu, menurut Astrild Erretha, hanyalah hari biasa. Tak ada yang berubah. Ia datang ke sekolah, bercanda dengan teman-temannya, kembali kecewa, dan pulang.

Teman-temannya tetaplah sama. Cahaya matanya yang memancarkan kekecewaan dan sakit hati akibat kembali terlupakan tetap tak diacuhkan, sebagaimana biasanya. Ia tetaplah terlupakan.

Dan ia telah menganggap hal biasa mengenai hal ini. Lagipula, siapa yang peduli tentang Astrild Erretha, seorang gadis biasa—cenderung aneh malah? Kesendirian telah menemaninya dan seiring berjalan waktu telah menjadi teman baiknya. Kekecewaan dan sakit hati adalah makanan tiap harinya. Ia telah terbiasa. Ia telah mampu menopengi semua emosinya dengan sikap ceria, acuh-tak-acuh yang ada padanya.

Ia berusaha menahan sakit ketika kedua sobatnya mendapat sebatang Chunky Bar sementara ia tidak. Cokelat itu didapat dari pacar temannya, kawan baik kedua sobat Astrild dan dahulunya-sahabat-Astrild-namun-sekarang-tidak-lagi.

Lagi-lagi cahaya kekecewaan terpancar dari matanya dan tak ada yang peduli. Mengenai hal ini, Astrild tak tahu harus bersyukur atau kecewa.

(Namun sepertinya Tuhan tahu keadaannya sehingga mengutus seseorang untuk menghiburnya dengan memberi sebatang Cadbury.)

Astrild Erretha adalah seorang aktris. Ia berakting tanpa mengenal lelah, kapanpun dan di manapun. Ia melindungi emosinya dari dunia di saat matahari bersinar dan mengeluarkan semuanya ketika bulan muncul melalui sebuah buku dan situs dunia maya.

Dunia mungkin saja melihatnya sebagai seorang acuh tak acuh, selalu gembira, sok pencari perhatian, supel, sok kenal, dan apapun itu. Mereka mungkin saja melihatnya seperti itu, namun tak ada yang peduli akan cerita di balik itu.

Tentang bagaimana Astrild harus berurusan dengan pergulatan batin yang berat dan menguras tenaga tiap hari tanpa mengenal waktu.

Astrild Erretha adalah seorang gadis yang ingin dipandang kuat. Ia tak ingin dipandang sebagai seorang gadis cengeng yang hanya bisa menangis untuk menyelesaikan masalah. Ia ingin dipandang sebagai seorang gadis kuat yang mampu menyembunyikan seluruh masalahnya dengan seulas senyum yang tersungging di wajahnya.

Tapi ia takkan bisa mempertahankan senyum itu selamanya. Ada kalanya semua itu runtuh dan setetes air asin yang berasal dari kantung matanya keluar ‘tuk mengekspresikan semua sakit hati dan kekecewaannya. Saat di mana ia terdiam, dan mengeluarkan semua itu bukan dengan kumpulan frasa dan kata-kata.

Melainkan oleh tetesan air mata yang bergulir jatuh dari wajahnya.

Advertisements

Apa hubungan olahraga dengan jasmani dan rohani? (2)

Althea Spectra C.
9-1
Esai Penjaskes

Apa hubungan olahraga dengan jasmani dan rohani?
Jawab:
Hubungan antara mereka tak bisa dikemukakan dengan rumus dan logika matematika, menurutku. Tapi akan kucoba.

Olahraga menjalin hubungan layaknya… fungsi. Ya, semacam itu. Dengan jasmani dan rohani. Dari sisi jasmani, dapat disimpulkan bahwa manfaat olahraga adalah untuk membugarkan badan.

Lalu, dari sisi kerohanian, aku tak pasti mengenai hal ini. Aku akan meminta contekan dari Asti untuk ini. Tapi menurutku, hubungan antara mereka adalah olahraga mempengaruhi jiwa sedemikian rupa hingga jika seorang maniak olahraga tak berolahraga maka ia akan menderita gangguan mental. Contohnya; Cassie. Ia akan menggila jika tak bermain bulu tangkis barang sehari saja.


“Althea! Aku tak menggila jika tak bermain bulu tangkis seharian! Aku hanya… hanya… terpuruk!” Castradale Arreln berseru nyaring. Ditatapnya tajam-tajam esai milik Althea.

“Bung, itulah kenyataannya! Tanyakan saja pada…oh, hai, Asti!” sapa Althea saat Astrild masuk ke kelas. Astrild menoleh dan menatap Althea dan Cassie, lalu selembar kertas yang dipegang oleh Cassie.

“Esai Alecta! Wah, tumben kau menulisnya, Ta! Perlihatkan padaku, Cas!” pekik Astrild gembira. Direbutnya kertas esai Althea dari genggaman Cassie, lalu dibacanya.

Ketika selesai membaca esai itu, ekspresi Astrild ialah horor bercampur geli. Dengan suara pelan, ia berkata pada Althea.

“Ta, esai itu penggabungan antara kreatifitas dan imajinasi, bukannya rumus matematika dan logika.”

i. flower

Baginya, ia nampak seperti sekuntum Apple Blossom, perlambangan keberuntungan. Dengan rambut merah bergelombang, semerah apel yang ranum dan iris sewarna rumput hijau musim semi, ia memancarkan kesempurnaan yang dilambangkan oleh kamelia.

(Mungkinkah, ia sendiri adalah penjelmaan kamelia yang sempurna?)


Bertemu dengannya nampak seperti memetik sekuntum Aconite. Membuat kontak mata dengannya selalu membuatnya merasa muak. Berada dalam radius kurang dari 7 meter dengannya bagai merasakan luapan amarah Peony.

Begitulah pendapatnya akan dia. Dia begitu mengesalkan, dia begitu angkuh layaknya Narcissus (bahkan ia berharap bahwa dia akan mati layaknya Narcissus yang angkuh itu), dan dia begitu menyebalkan.



Suatu kali, seorang pria memberikan sekuntum Primrose dan tulip pada wanita pujaannya dan sebagai balasan, ia menerima sekuntum Lily jingga.

Dia begitu gembira akan hal ini, sampai dia menyadari arti dari bunga yang sang wanita berikan padanya.

Kebencian.

[ aku benci padamu! menjauhlah dari hidupku, dan jangan menggangguku lagi! ]



Sang wanita tak pernah sadar bahwa suatu saat, ia jatuh cinta padanya. Ketika ia berhasil mengumpulkan keberaniannya dan memberikan sekuntum Primrose pada sang pria—dia akan membalasnya dengan sekuntum anyelir kuning.

[ (kau telah mengecewakanku) maaf, aku tak bisa bersamamu. ]



Ia tak berkata apa-apa. Sang pria menatap kosong pada Primrose di tangan sang wanita, lalu perlahan mengeluarkan sekuntum anyelir kuning sebagai balasannya.

Setelah itu, ia tak merasakan apapun.
Ia melepasnya.
Apple Blossom miliknya, keberuntungannya, cintanya.

Apa hubungan olahraga dengan jasmani dan rohani?

Astrild Erretha
9-1
Esai Penjaskes

Apa hubungan antara olahraga dengan jasmani dan rohani?
Jawab:
Menurutku, sebagai orang yang memiliki kelemahan dalam bidang olahraga, hubungannya dengan jasmani ialah membikin seluruh tulang remuk dan otot mengejang keesokan harinya.

Sementara hubungannya dengan rohani adalah meningkatkan iman pada Tuhan. Maksudku, selalu berdoa sebelum memulai olahraga demi tercapainya kesuksesan dan mendapat nilai yang bagus pada akhirnya.



“Hei, Ast,” panggil Althea ketika melihat esai Astrild. Ia membacanya sekali lagi untuk memastikan bahwa yang ia baca adalah selembar esai yang akan dikumpul pada guru olahraga mereka, yang notabene adalah guru tersadis di sekolah.

“Ada apa?” balas Astrild. Ia masih sibuk menyalin jawaban untuk PR Matematika dari buku Althea.

“Ini yang akan kaukumpulkan?” tanya Althea sambil melambaikan kertas esai Astrild.

“Esai itu? Tentu saja,” jawab Astrild tanpa mengalihkan pandangannya.

“Maksudku… apakah ini esai, atau cerita?”

“Keduanya, menurutku.”

Althea Spectra Chaddesley: Truth to be Revealed

ALTHEA Spectra Chaddesley merupakan satu dari dua karakter yang penulis ciptakan. Memiliki tanggal lahir 19 Desember, tentunya tokoh ini memiliki asal-usul menarik yang akan dijabarkan oleh si penulis, aerretha.

Diciptakan dengan memiliki kemampuan mencolok dalam matematika, Althea Spectra juga merupakan penggabungan dari dua teman dekat aerretha, namun dengan sikap yang disesuaikan oleh sikap asli serta mimpi sang penciptanya.

Karakter yang sering muncul sebagai sobat karib Astrild Erretha ini juga memiliki inisial nama dari teman dekat aerretha, yaitu A dan S. Begitu juga dengan tanggal dan bulan lahirnya, 19 Desember.

Walaupun secara kasat mata kedua orang ini merupakan teman dekat aerretha, namun si penulis sepertinya lebih banyak tak menganggap keduanya sebagai teman dekat. Pasalnya, aerretha sering menganggap dirinya sebagai ‘orang ketiga’ dari persahabatan keduanya yang terjalin semenjak SD. Selain itu, mereka juga berteman dalam lingkungan Gereja. Aktivitas yang sering mereka lakukan; bergosip mengenai rutinitas di gereja sering membuat aerretha merasa terlupakan.

Althea dan penulis memiliki kesamaan dalam bidang teknologi dan matematika. Si penulis juga merupakan salah seorang yang berbakat dalam bidang komputer, mengerjakan tugas sekolah untuk dirinya dan kedua sahabatnya sudah menjadi rutinitas. Berbeda dengan Althea dalam bidang matematika, aerretha bukanlah seorang yang sangat berbakat dalam bidang itu. Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa bakat matematika Althea adalah penyatuan dari bakat dan mimpi si penulis.

Cuek dan tak memiliki kehidupan sosial juga merupakan bagian dari hidup aerretha. Namun, ia sedikit lebih beruntung dari Althea sebab penulis juga memiliki kehidupan sosial, walaupun tak banyak. Juga mengenai adiksi terhadap internet.

Itulah Althea Spectra Chaddesley. Sahabat dari Astrild Erretha, diciptakan dengan berbagai macam pertimbangan.

turns out into

I just had almost-miserable day. Or could i say nearly-happy day?

Tata bahasa Inggris saya rusak, jadi untuk menghindari kesalahan jadi dibuatlah dalam bahasa Indonesia.

First of all, I began this day normally. Oke, tidak ada keanehan sama sekali. Semuanya terasa normal, sangat normal.

Kemudian… I felt terrible to my group’s friends while the fourth group performed their drama. Seolah drama kelompok saya itu… terburuk. Okay, I admit that we’d not had enough rehearsal. But still…

Ketiga, sesampainya di jam Geografi, malah kena ceramah. Demi apapun, ini menjengkelkan. Untungnya ketiga setan—ehm, orang berhasil menaikkan suasana hati.

Keempat, Biologi-Bahasa Inggris. Ada masalah di pembawaan kompor serta diselenggarakannya ulangan mendadak. Di Bahasa Inggris, ketahuan tidur. Untungnya, tidak poin tak dikurangi.

Matematika, adalah pelajaran terakhir. Tepat pada 45 menit terakhir, saya beserta kawan-kawan dipanggil untuk latihan sedikit mengenai Matematika. We did it all well.

Kembali ke rumah… Diceramahi tentang piano. Saya tahu, oke? Terkadang saat lewat dekat piano biasa saya yang depresi. Sakit hati. Lalu Emak minta supaya latihan beserta nasehat dan curahan hati betapa sayangnya uang yang digunakan untuk membiayai les. Tenang, Emak. Kau tak sendiri. Aku sendiri kecewa dengan diriku.

Berlanjut ke laptop. Microsoft Word tak bekerja, kerjanya cuma error melulu. Sakit hati ini makin menjadi-jadi.

Untungnya malam tiba dan akhirnya pun… semua tertidur.