/flee, astrild, and althea: an hour of meeting/

“Aku tak percaya kau melakukannya.”

“Begitupun juga aku,” kata Althea sambil menggelengkan kepalanya, “kau itu mudah digoda, ya, Flee?”

“Sudahlah!” seru Flee dengan wajah memerah sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. “Lagipula, untuk apa kalian datang ke sini?!”

Astrild dan Althea saling berpandang satu sama lain, kemudian memandang Flee dengan cengiran yang menghiasi wajah mereka berdua. “Tentu saja untuk mengunjungi penulis kami yang tercinta~!” nyanyi mereka berdua dengan nada gembira, yang seketika membuat Flee meringis.

“Hentikan, kalian seperti anak-anak saja,” omel Flee. Kedua tangannya masih menutupi kedua telinganya, “harap dicatat bahwa kalian sebentar lagi masuk SMA.”

“Hal yang sama berlaku juga padamu, Flee,” komentar Althea sambil menjulurkan lidahnya, “kau juga sebentar lagi SMA dan masih seperti anak-anak.”

Flee memutar matanya. “Jangan mengikuti perkataanku, Lecta,” katanya datar.

“Tapi yang dikatakan Alecta juga ada benarnya, loh, Flee,” ujar Astrild sambil meletakkan telunjuk kanannya di dagunya, “sikapmu seperti anak-anak. Hey, Lec, masih ingat tidak, kejadian sebelum ulang tahunnya?”

Althea mengangkat sebelah alisnya. “Yang mana?”

“Dia ngambek karena tidak ada orang memberinya selamat ketika jam 12,” jelas Astrild, “kau ingat?”

“Biar kuingat dulu…” kata Althea sambil berpikir, “ah, ya! Aku ingat dia memandang ponselnya dengan ekspresi semacam sakit hati begitu.”

“Kalian berdua, sudahlah,” erang Flee sambil memijit pelipisnya. “Jangan membongkar aib di sini.”

“Kami tidak membongkar aibmu, kok,” sahut Astrild. Di sampingnya, Althea mengangguk.

“Ya, kami hanya merundingkanmu di sini,” tambah Althea ceria.

Dalam hati, Flee mengerang. Kenapa ia bisa menciptakan kedua tokoh yang seperti saudara kembar dan merepotkan begini?

“Aku membencimu,” gumam Flee kesal, “kalian berdua. Andai saja aku tak berada dalam limit untuk mengirim karakterku kembali ke dunia mereka, kalian sudah kukirim kembali daritadi.”

Mendengar hal ini, Astrild dan Althea nyengir. “Sejam bersama Flee~!” seru mereka kompak, yang membuat Flee melotot seketika.



“Jujur, kalian ke sini dalam rangka apa, hah?”

Althea hendak membuka suara—sepertinya mengganggu penciptanya menjadi salah satu hobi barunya saat ini—namun, untung saja, Astrild mendahului.

“Hanya mau memberitahumu,” kata Astrild, “kalau kau melanggar janjimu.”

Flee melongo. “Hah? Janji apa? Seingatku, aku tak pernah berjanji apapun pada kalian berdua,” jawabnya.

Astrild berdecak kesal, sementara Althea menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. “Masa kau lupa? Ingat, kau pernah berjanji takkan membaca apapun yang berhubungan dengan R18—” Ucapan Astrild segera dipotong oleh Flee sambil gelegapan.

“O—oh, yang itu, ya…” Flee tertawa kikuk, “er… kau kan tahu kalau aku kan addict ke pairing itu, jadi karena pasokan fic-nya sudah tidak cukup jadi… Ahahahaha…” Ia tertawa gelegapan ketika tatapan tajam dari keduanya diarahkan padanya.

‘Serius… Kedua orang itu bisa menjadi seram hanya dalam waktu beberapa detik,’ batin Flee sambil menelan ludah.

“Apa benar?”

“Serius?”

“Bukan karena kau telah depresi ya?”

“Kekurangan pasokan R18?”

“Apa doujinshi tidak mencukupimu ya?”

Flee memutar matanya mendengar serentetan pertanyaan dari Althea dan Astrild. “Ya, ya, tidak, bisa jadi, dan tidak,” jawabnya. “Sudah jelas?”

“Alasan kenapa kau membacanya?” tanya Astrild.

“Err…” Flee berpikir sejenak, menimbang-nimbang apakah ia harus jujur atau tidak, “itu bisa dibilang tidak sengaja, atau memang depresi, atau juga… nekat. Atau bisa juga dibilang karena mereka terlalu lucu, ya ampun, siapa sangka KidConan itu lucu?!” Pada kalimat terakhir, nada suara Flee meninggi sehingga ia terdengar seperti memekik.

“Hei, hei, Flee,” kata Althea, “jangan histeris, oke? Ingat, jangan histeris.”

“Tapi,” bantah Flee, “mereka terlalu imu~t!”

“Ya ya ya, aku tahu mereka imut. Tapi jangan histeris, oke? Terakhir kali kau histeris itu…” Althea melirik Astrild, memintanya secara tak langsung untuk melanjutkan perkataannya.

“…sederetan hal buruk terjadi,” sambung Astrild. Flee hanya memutar matanya.

“Tidak seburuk itu, kok,” komentarnya datar, “kalian melebih-lebihkan.”

“Tidak juga,” bantah Althea, “terakhir kau histeris itu pikiranmu jadi gila dan kau membaca lebih dari sepuluh fic R18, sebuah laptop hang, kuota tab juga ponselmu mengalir dengan deras, dan seseorang marah padamu.”

“Menurutku itu tak terlalu buruk, kok,” balas Flee. “Biasa saja malahan.”

Kali ini giliran Althea yang memutar matanya.

Flee melirik ke arloji sakunya, yang entah ia dapat dari mana, dan nyengir. “Baiklah. Sejam telah berakhir! Kurasa aku telah mendapat kembali kekuatan untuk menghilangkan karakter!” serunya gembira. Seketika juga, ia menjentikkan jarinya dan tubuh Astrild dan Althea memudar sebelum mereka berdua dapat berkata apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s