complexion of white canvas : little white lies

complexion versi indonesian — because im not in mood to write english,
enjoy! – flee.


“Kau tahu, Flee, bahwa kau tak bisa berbohong lebih lama lagi.”

Flee tak menjawab. Ia hanya menatap kumpulan tuts piano di depannya. Putih, hitam, putih, hitam, putih, putih—

“Flee.” Suara itu terdengar sedih, “kau tak harus menyiksa dirimu demi… membahagiakannya, kan?”

“Aku tak apa-apa, Cassie,” jawab Flee ketus. “Pulanglah dan tinggalkan aku sendiri. Ini sama sekali bukan urusanmu.”

Cassie berjengit mendengar nada suara Flee, begitupun juga Flee. Ia sendiri tampaknya tak bisa percaya bahwa dirinya berkata seketus itu.

“Flee—”

“Pulanglah, Cassie,” kata Flee pelan. Ia mengalihkan pandangannya dari tuts-tuts piano di hadapannya dan menatap lurus ke arah Cassie. Sang karakter dengan nama Castradale Arreln itu hanya bisa kembali berjengit begitu melihat mata onyx Flee. Mata itu tampak sedang suram, seperti sedang menahan sesuatu yang begitu hebat. Wajahnya tampak tak beremosi hingga Cassie tak yakin apakah yang dilihatnya dari mata Flee adalah benar atau tidak.

Cassie menggigit bibir bawahnya. Setelah menghitung satu, dua, tiga, ia kembali bersuara. “Kau tahu, semua mengkhawatirkanmu,” katanya dengan suara gemetar, “mulai dari aku, Asti, Althea, lalu kru A Quest of Pandora juga—terutama Helka.”

Flee menutup matanya. “Aku tak apa-apa, sungguh, Cas.” Ia membuka kembali matanya. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja.” Flee mengucapkan hal itu dengan nada yang menenangkan hingga Cassie nyaris percaya padanya. Nyaris—jika ia tak memperhatikan bahwa nada suara Flee pada kalimat terakhir sedikit bergetar.

Semuanya pasti tak baik-baik saja, batin Cassie. Kau menyembunyikan sesuatu, Flee—

“—kau menyembunyikan sesuatu. Pada awalnya itu tampak baik-baik saja, bisa kau tangani. Tapi sesuatu itu makin membesar hingga kau mulai kesulitan untuk menjaga topengmu.” Cassie berkata dengan tenang, yang membuat Flee sedikit tertegun mendengar nadanya.

Ke mana Cassie yang tadinya tergagap di hadapanku? batin Flee.

“Astrild dan Althea memperhatikannya, namun kau berusaha membuat mereka yakin bahwa kau baik-baik saja—dan hal itu berhasil. Begitu juga dengan kru A Quest milikmu, kecuali Helka. Kalau aku tak salah, ia tinggal bersamamu selama kau mengadakan casting bukan?” Cassie meneruskan hipotesisnya, “ia merasa sesuatu sedang… mati dalam dirimu. Namun ia tak tahu itu apa. Jadi, ia menemuiku dan memintaku untuk menanyakan padamu apa kau benar-benar baik-baik saja.” Ia berujar dengan memasukkan sedikit nada sarkatis di kata benar-benar.

Flee mendengus. “Helka hanya terlalu khawatir padaku,” katanya. “Intuisi wanitanya terlalu berlebihan.”

“Ah?” kata Cassie sambil tersenyum, “bukankah intuisi wanita selalu benar?”

“Intuisi itu hanya lahir dari kekhawatirannya padaku. Kau melebih-lebihkan hal itu, Cas.” Flee kemudian berbalik dan menghadap tuts-tuts piano di hadapannya. “Dan untuk terakhir kalinya, kuminta kau pulang sekarang.” Ia berjengit mendengar betapa putus asanya nada yang keluar dari mulutnya. Flee hanya mampu berharap Cassie tak mendengar nada itu—walaupun peluang harapan itu dikabulkan sangat tipis, hanya 0.01 persen, mengingat Cassie diam-diam adalah observan yang ulung.

“Pertanyaanku sekarang; apa kau baik-baik saja, Fleur?” tanya Cassie pelan. “Kau tak bisa menghindari pertanyaanku kali ini dengan jawaban ‘aku baik-baik saja‘. Apalagi setelah mendengar nada terakhirmu itu.”

“Tidak bisakah kau meninggalkanku sendirian?!” jerit Flee kesal. “Aku sedang tidak dalam kondisi untuk diobservasi oleh detektif amatiran!” Kemudian ia menekan tuts-tuts piano itu secara acak dan dengan keras hingga menimbulkan suara buruk yang memekakkan telinga.

Cassie hanya terdiam. Kemudian ia kembali berkata dengan pelan, “Apakah ini ada hubungannya dengan Ibumu… yang memaksamu untuk memainkannya lagi?”

Tubuh Flee menegang. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan polos, yang membuat Cassie mendengus.

“Jangan pura-pura bodoh, Flee. Ini pasti ada hubungannya dengannya,” Cassie menunjuk piano yang berada di depan Flee, “benarkan?”

Flee tak mengatakan apa-apa. Ia meletakkan kesepuluh jarinya di atas tuts-tuts piano. Kemudian jari-jemarinya menari di atas piano. Cassie mengenal lagu yang dimainkan oleh Flee. Melodi yang melankolis namun riang, seolah menyembunyikan sejuta rahasia di dalamnya. River Flows in You.

Cassie memejamkan matanya, menikmati alunan melodi yang dihasilkan oleh jari-jemari Flee yang menari lincah di atas piano. Kemudian, ketika tuts terakhir telah ditekan, ia membuka matanya dan menatap punggung sang pemain. “Kau memodifikasi bagian ketiganya, bukan?”

“Aku belum terlalu tahu versi aslinya, jadi kumainkan saja sebagaimana yang aku bisa,” jawab Flee dengan tak peduli.

Mereka berdua lalu terdiam beberapa saat sebelum Flee akhirnya memutuskan untuk memecahkan kesunyian di antara dirinya dan karakternya. “Apa… kelihatan…?” Cassie tak perlu bertanya maksud pertanyaan Flee.

“Tidak, aku hanya menjadi observan yang baik,” respon Cassie. “Belum ada yang tahu, Flee. Tenang saja,” Ia menambahkan setelah beberapa saat.

Hal ini hanya mendapat respon berupa anggukan dari Flee. Ia terus menundukkan wajahnya, menatap tuts-tuts piano. Hitam, putih, hitam, putih, hitam, putih, putih— “Aku memang membenci ini. Piano ini,” kata Flee lirih, “aku tak pernah memiliki passion dalam piano. Aku hanyalah manusia yang terlalu mengandalkan otak kirinya hingga otak kanannya terbengkalai.” Flee mengeluarkan suara tawa paksa. Kemudian ia menekan tuts pertama yang ia pelajari—do. “Dari apa yang kubaca di Google lalu tes-tes online yang kuikuti, aku adalah manusia berotak kiri. Namun saat aku membaca sifat umum orang yang dominan otak kanan, aku mulai merasakan harapanku tumbuh karena sebagian besar sikapku adalah seperti itu. Tapi… kurasa aku takkan terlalu berharap—karena terlalu banyak berharap, maka sakit hati yang kaurasakan akibat harapanmu yang tak terkabul itu makin besar, bukankah begitu?”

Cassie tak menjawab, dan Flee meneruskan. “Aku tak bisa mengatakan bahwa selama bertahun-tahun, selama delapan tahun aku mempelajari piano, sudah lima tahun aku membenci instrumen ini. Belum lagi, Ibuku yang sangat mengharapkan anaknya agar bisa menjadi pianis—menjadi pemain musik gereja. Aku tak bisa mengatakannya, Cassie. Apalagi hal itu akan membuat Ibuku sakit hati karena sudah puluhan juta dihabiskan untuk kursus pianoku selama delapan tahun. Kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku mengatakan, ‘Ibu, anakmu ini membenci piano dengan seluruh hatinya dan ingin berhenti.’? Huh. Ibuku memang takkan sampai hati untuk mengusirku dari rumah, tapi aku dapat membayangkan betapa sakit hatinya jika aku mengatakan hal seperti itu. Mungkin ia akan menyita laptop dan ponselku selama beberapa hari atau bulan, bahkan tahun, tapi hal itu takkan mengobati sakit hatinya, aku yakin akan hal itu.” Flee menghela nafas sejenak, “aku tak bisa. Hal terakhir yang aku ingin lihat dari Ibuku adalah wajahnya yang sakit hati. Walaupun terkadang aku membenci Ibuku karena ia adalah wanita yang selalu marah, perfeksionis sejati yang menginginkan semua hasil yang baik dari anaknya, ia tetap Ibuku dan aku menyayanginya.”

Flee mengucapkan kalimat terakhir dengan nada bergetar. Matanya telah berkaca-kaca, namun ia menahan dirinya setengah mati agar tidak menangis saat itu juga. Jadi, ia menghirup nafas panjang untuk menenangkan dirinya, dan melanjutkan, “Untuk melihat wajah Ibuku yang bahagia—yang tersenyum bahagia, aku rela melakukan apa saja, walaupun hal itu adalah hal terakhir yang aku ingin lakukan di dunia.”

Ia kembali mengambil kembali jeda sejenak, untuk menenangkan dirinya kembali agar tidak menangis saat itu juga. Masih ada yang harus ia katakan pada Cassie. “Aku memang tak seperti adikku yang bisa mengatakan semuanya secara terus terang. Aku adalah tipe orang yang menutup semuanya rapat-rapat dalam diriku sendiri dan baru melepaskannya setelah seseorang melakukan konfrontrasi padaku—seperti yang kau lakukan tadi.” Flee tertawa kecil, “jadi, selama kurang lebih lima tahun, aku menekan perasaan itu rapat-rapat. Beberapa kali aku hampir mengeluarkan semuanya, kau tahu? Saat itu, aku pernah meminta Ayah untuk menjual piano ini. Tapi Ibu melarangnya, mengatakan bahwa Flee akan menjadi memainkannya lagi. Aku tak berani menentang Ibu karena takut perasaan ini akan ketahuan, jadi aku hanya diam. Ayah tak mengatakan apa-apa dan piano ini tetap berada di sini. Kemudian, setelah aku selesai menghadapi Ujian Akhir Nasional, Ibuku menyuruhku untuk memainkan benda ini lagi.”

Flee menekan tuts kedua—re. “Ia juga mengancamku agar bermain dengan baik supaya aku tak dimasukkan dalam les. Aku benci les, jadi kulakukan apa yang kubisa. Aku ingat, saat itu ia mengatakan jika aku berhasil menebak akor-akor suatu lagu, aku tak jadi dimasukkan dalam les. Jadi, kulakukan hal itu dan saat aku berhasil… bisa dikatakan ia ingin agar aku bisa mengimprovisasinya lebih baik, seperti pemain piano di gereja. Aku tak bisa melewati hal ini, dan konsekuensi yang harus kuhadapi adalah kembali dijebloskan dalam les.” Flee tertawa pahit, “keadaan sedang berpihak pada Ibuku. Saat itu pihak les tempatku belajar piano, menghubungiku kembali dan menawarkanku agar masuk kembali untuk les. Saat itu, kurasa Ibu mengambilkan cuti untukku selama beberapa bulan. Dan terakhir kali mereka mengontak, Ibuku menerimanya dan menjadikan hari Rabu adalah hari lesku.”

“Besok?” tanya Cassie.

“Ya, besok,” ujar Flee sambil mengangguk. “Aku bisa merasakan bahwa suatu saat nanti aku akan menjadikan hari Rabu sebagai hari terburuk—sama seperti yang kulakukan pada hari-hari lesku dulu; Sabtu dan Jumat.” Ia menekan tuts ketiga—mi—lalu mengeluarkan tawa pelan. “God, I’m a pathetic person, for sure.”

Beberapa saat kemudian, Cassie mengangguk. “Baiklah, kurasa sudah cukup.” Ia berjalan menuju ke arah pintu saat Flee menekan tuts keempat—fa. “Aku takkan menceritakan hal ini pada siapapun.” Cassie menambahkan.

“Terima kasih, kurasa, Cassie,” kata Flee. Cassie dapat mendengar senyuman dalam perkataan itu. “Aku lega bahwa aku bisa menceritakannya pada orang lain, tanpa orang itu membocorkannya pada orang lain.”

Cassie mengangkat bahunya. “Bukan masalah untukku,” katanya. Tangannya telah memegang gagang pintu. Ditekannya ke bawah dan didorongnya pintu itu. Sebelum ia sempat menjejakkan kakinya keluar dari ruangan itu, ia berkata, “Kau tahu, Flee. Kau bisa menangis sekarang.”

Flee melotot mendengar hal itu. “Aku. Tidak. Akan. Menangis.” Ia berujar, menekan tiap kata yang keluar dari mulutnya. Mendengar hal itu Cassie hanya tertawa kecil.

“Sampai jumpa, Flee!”

“Sampai jumpa juga.”

Setelah mendengar suara pintu depan tertutup, Flee hanya menatap ke pianonya beberapa saat sebelum merasa sesuatu menetes jatuh ke pianonya, masuk melalui celah yang ada di antara tuts. Cepat-cepat ia mengangkat wajahnya dan menatap dinding putih ruangan di mana ia berada.

“Aku benar-benar menyedihkan, ya?”

Ia tertawa. Namun air matanya tak berhenti mengalir.


“Bagaimana dengannya, Cas? Apa dia baik-baik saja?”

Castradale Arreln menggeleng. Ia menatap orang-orang di dalam ruangan itu. Semuanya nampak khawatir.

“Apa dia mengatakan sesuatu padamu?” tanya Astrild dengan nada khawatir.

Cassie menimbang-nimbang apakah ia harus jujur atau tidak. Melihat ekspresi khawatir masing-masing orang di dalam ruangan itu menggodanya untuk menceritakan semua hal yang diberitahukan Flee padanya, Namun, ia telah berjanji bahwa ia takkan menceritakan hal itu pada siapapun.

“Cassie?” panggil Helka. Ia memegang bahu gadis di hadapannya—yang baru saja mengemban misi mulia untuk mencari tahu apa alasan di balik semua tindakan Flee akhir-akhir ini yang terlihat aneh. “Tak masalah jika kau tak bisa mengatakannya… Flee pasti memintamu untuk merahasiakannya, ya?”

“Tapi, Hal!” protes Deianira. Ia segera mendapat tatapan berbahaya dari Helka, yang membuatnya seketika bungkam.

 “… Ia hanya menghadapi masalah. Tidak apa-apa, semuanya telah teratasi sekarang,” kata Cassie dengan senyum misterius. Ia kemudian berlalu, meninggalkan semua orang yang berada dalam ruangan itu—Astrild, Althea, dan seluruh kru A Quest—dengan keadaan bingung.

Aku yakin kau pasti bisa mengatasinya, Flee, batin Cassie, kau pasti bisa.


bagian kedua cuma penghiburan diri dari suasana kelam yang dihadapi sekarang :’)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s