complexion of white canvas: familià

karena saya lagi butuh fluff-family :’3 jadi yang ini tercipta~! yay untuk cassie-flee sisterhood! /dibakar cassie/

judulnya saya buat sendiri :3 /pose bangga/ lagi pengen nge-sok Italia, terus huruf à di belakang itu kayak keren /dilempar/

oke, seri kedua dari complexion of white canvas versi indonesia! enjoy! -flee


Complexion of White Canvas
—familià—


Teddy Bear
“Aku membencinya, letakkan benda itu di luar.”

Fleur mendengus. Kedua tangannya melingkar di daerah leher boneka beruang merah muda yang ukurannya dua kali dari tubuhnya yang berusia empat tahun.

“Boneka ini sama sekali tak buruk, Cassie!” semburnya, mengeratkan pelukannya pada boneka beruang besar itu, “iya kan, Teddy?” Ia berkata pada sang boneka.

“Kau mulai seperti Mr. Bean,” komentar Castradale datar. “Hanya saja bonekamu lima kali lebih besar darinya—juga warnanya merah muda.”

Komentar tajam Castradale seolah-olah dianggap angin lalu oleh Fleur. “Fleur tak mau tahu, Teddy pokoknya harus ikut atau Fleur tidur di luar dan kau akan dimarahi Hal,” balas Fleur sengit.

Castradale memutar matanya. “Ya, ya, seperti ancamanmu mempan terhadapku saja.” Hanya itu yang ia katakan sebelum terbenam kembali dengan PSP-nya.

Fleur menatap kakaknya yang lebih tua empat tahun darinya itu dengan cemberut. Kemudian ia keluar dari kamar mereka berdua sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Keesokan harinya, Castradale disemprot habis-habisan oleh Helka karena ‘meninggalkan adiknya tidur di luar’ dan ‘tidak menjadi kakak yang baik’. Di belakang Helka, Fleur hanya menjulurkan lidahnya sambil tersenyum penuh kemenangan sekaligus mengejek pada kakaknya.


Fairy Tale
Castradale Arreln tak pernah mempercayai dongeng. Ia—dengan pikirannya yang telah berusia delapan tahun yang selalu ia banggakan karena lebih dewasa dibanding anak seusianya—telah menyadari bahwa tak ada yang namanya dongeng eksis dalam dunia ini; apalagi kalimat ‘…dan mereka hidup bahagia selamanya’ yang sering terletak di akhir tiap-tiap dongeng.
Lain halnya dengan Fleur.

Fleur Arreln, di usianya yang keempat, wajarlah jika ia mempercayai dongeng. Helka selalu membacakannya satu tiap malam. Ia selalu menyenangi ketika tokoh baik mengalahkan tokoh yang jahat dan mereka hidup bahagia selamanya. Ia akan memekik gembira dan mendapati dirinya diberi dengusan oleh kakaknya.

Suatu kali, setelah Helka selesai membacakan dongeng mengenai The Little Mermaid, Fleur memekik gembira seperti biasa, Cassie mendengus, dan Helka hanya tersenyum. Lalu ia mengucapkan selamat malam pada Fleur dan kakaknya, mematikan lampu, dan keluar dari kamar Arreln bersaudara.

Fleur mendapati dirinya memeluk Teddy dan menatap langit-langit yang gelap. Ia sudah mengantuk, namun ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. “Cassie?” panggilnya.

Castradale hanya memberikan ‘mmm’, menandakan ia mendengar Fleur.

“Kenapa kau tak suka dongeng?”

“Karena mereka semua hanya sampah,” jawab Castradale jujur, “tak ada dari mereka yang nyata.”

“Oh ya…” Fleur berkata dengan nada mengantuk, “mereka tak nyata bagimu karena kau tak percaya… kata Helka, segala sesuatu bermula dari percaya…” Ia mengeratkan pelukannya pada Teddy, lalu tertidur.

Meninggalkan Castradale yang tertegun mendengar jawaban dari adiknya, yang membuatnya tertegun.


Detective
Jika ada hal yang dapat menyatukan Castradale dan Fleur dari segala perbedaan yang mereka miliki, maka hal itu adalah hal-hal yang berbau detektif.

Segala hal yang dimiliki oleh mereka secara umum adalah hal-hal itu. Dan mereka berdua kompak menyukai Sherlock Holmes.
Namun…

“Aku masih tak mengerti kenapa kau masih ngotot bahwa Holmes menyukai Irene Adler,” sungut Castradale, “jelas-jelas Watson menulisnya bahwa Holmes tak mencintai Adler—paragraf pertama, kalimat keempat dari Skandal di Bohemia!”

“Ia hanya salah menarik kesimpulan!” bantah Fleur. “Watson, walaupun telah tinggal bertahun-tahun dengan Holmes—mulai dari 1881 hingga pernikahannya, hanya tidak peka! Ia telah tersugesti dengan fakta bahwa Holmes hanya mengandalkan logikanya dan tidak pernah perasaannya! Hingga ia tak peka dengan gelagat sobatnya itu!”

“Apa ada yang salah dengan rujukan Holmes pada Adler? Ia hanya menghargai rivalnya, itu saja! Adler satu-satunya wanita yang mampu mengalahkan Holmes! Jangan membuat hal itu berlebihan, Fleur!”

“Kadang aku heran apa kau itu laki-laki atau perempuan, Cassie! Jelas-jelas secara tak langsung Holmes menyatakan bahwa ‘ia-menyukai-Adler’! Di mana perasaanmu?!”

… dan hal itu akan berlanjut sampai Helka melerai mereka berdua.


Feeling
Terkadang Fleur heran mengapa saudaranya, Castradale, sangat sangat tidak peka terhadap perasaan orang.

Menjadi seorang perempuan, Cassie harusnya peka dengan hal yang bernama perasaan. Mengingat juga bahwa perempuan lebih mengutamakan perasaan lebih dibanding logika. Namun sepertinya Castradale membacanya terbalik.

Atau jangan-jangan Cassie sebenarnya adalah perempuan jejadian…?

Fleur hanya menatap salah satu dari sekian banyaknya pria yang menjadi korban ketidakpekaan Cassie dengan iba. Kenapa mereka harus menyukai saudaranya, yang bahkan pernah bertanya padanya; apa makna dari bunga mawar merah?

Oh well. Fleur hanya bisa menggeleng pasrah.


Cooking
Jika kau bertanya pada Castradale, apa yang paling tidak ia inginkan seumur hidupnya, maka ia akan menjawab makanan buatan Fleur.

Walaupun tiap-tiap masakan Fleur memiliki tampilan yang begitu memikat, rasanya tak sebanding dengan hal itu. Masakan buatan saudaranya itu, benar-benar jauh lebih parah rasanya dibanding sayuran apapun.

Makanan pertama dan terakhir buatan Fleur yang pernah Cassie cicipi adalah pai apel. Saat itu, Fleur dengan bangga memperlihatkan makanan itu pada saudaranya. Menjadi saudara yang baik, tentu saja Cassie mencobanya. Karena… siapa yang tak tertarik dengan pai apel yang ditata begitu elegannya sampai terlihat seperti masakan chef ternama di dunia?

Namun rasanya… katakanlah Cassie bahkan tak bisa memakan pai apel lagi tanpa membayangkan rasa pai apel buatan Fleur.


famillià: end


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s