flee’s rambling: just another day at school – ind

Jijay. Alay. Sok cari perhatian.

Itu yang kupikirkan kala menge-scroll daftar obrolan. Serius. Dia lebih muda dari saya, tapi kadar alaynya tinggi beudh. Ewh. Sok cari perhatian pula.

Mengerikan, itu yang kupikirkan. Berulang kali kuberusaha untuk meyakinkan diri dengan membisikkan berkali-kali; ia masih anak-anak, tingkat kestabilan emosi rendah, jadi maklumilah saja. Tapi hal ini tak bisa berlangsung dengan lama. Tidak bisa.

Dan, tanpa kusadari, perlahan-lahan kumulai merasa jijik dengannya.

Dia alay. Tukang modus, menyebalkan. Bisa saja kumasukkan seribu satu kata lainnya, namun dengan alasan kata tersebut tak senonoh, kupertahankan saja dalam hati.

Sungguh, benarkah orang-orang jaman sekarang begini? Seingatku, sewaktu umurku sebegitu, tak pernah aku se-alay itu di depan lawan jenis.

Kakak kelas pula.

Betapapun baiknya dia padaku.

Sungguh.

Terkadang, aku harus membuat catatan mental untuk memberinya ceramah mengenai ke-alay-an dan ke-centil-an dan sejenisnya.

Tapi ntar dikatain sok dewasa pula.

La-la-la, serba salah akunya.


Cinta itu rumit memang. Semua orang, tanpa mengenal waktu, tempat, bahkan usia, dapat jatuh cinta. Perasaan ini bahkan dapat membuat seseorang berubah kepribadian dalam kurun waktu kurang dari sehari. Mengerikan memang kedengarannya. Namun, itulah fakta.

Aku tak bisa mengatakan bahwa orang ini… sebut saja si A, jatuh cinta pada… si B. Kata ‘cinta’ di sini kedengaran sama sekali tak cocok, karena ‘cinta’ si A ini menurutku terdengar seperti obsesi selayaknya pada cinta pertama tiap-tiap orang. Sebutannya, apa ya… maniac mungkin kalau tak salah.

Dan menurutku si A ini terlalu belia untuk merasakan cinta yang sebenarnya… cinta yang tulus, yang hanya ingin membahagiakan tanpa memandang diri sendiri…

Lagipula si B sudah memiliki pacar.

Tapi si A berulang kali meyakinkan dirinya pada suatu kalimat: kalau memang jodoh? Semisal aku berjodoh dengan B, gimana?

Klise memang, tapi begitulah. Seperti yang kukatakan tadi, si A masih sangat belia untuk hal-hal ini. Ia sepertinya meyakini fakta bahwa cinta harus memiliki.

Jujur saja, mendengar hal-hal seperti ini sebenarnya tak membuatku jijik. Pikirku, toh wajar. Kita semua berada pada usia di mana hormon bereproduksi dengan gila-gilaan. Tapi dalam kasus dengan A… entah kenapa aku merasa merinding sekaligus jijik tiap kali ia mulai bercerita tentang ‘perasaannya’ pada si B.

Jujur saja.

Belum lagi… si A ini di pandanganku terlihat benar-benar alay. Dan aku benci orang alay, Ewh.